Showing posts with label kontemporer. Show all posts
Showing posts with label kontemporer. Show all posts

Thursday, June 12, 2014

Kisah Ulama Besar Menolak Menjadi Dubes RI Karena Sang Istri


Pada Ramadan lalu saya ingat cinta seorang lelaki berkopiah kepada seorang perempuan muslimah mungkin perempuan terbaik dalam hidupnya.

Di masa sulit pemerintahan Soekarno, di suatu sore di bulan Ramadan, muslimah yang dicintai seorang lelaki berpeci itu menunggu kedatangan tukang susu murni.

Tukang susu langganannya biasa mengantar susu tiap sore pukul empat. Sementara anaknya, yang rutin minum susu murni itu, biasa minum pukul lima sore. Tapi pukul empat, setengah empat, pukul lima berlalu tukang susu tak kunjung datang. Perempuan itu mulai panik. Waktu maghrib datang tukang susu baru tiba. Perempuan muslimah yang khawatir itu melangkah tergesa-gesa ke luar rumah. Mungkin akan marah-marah.

Cepat-cepat tukang susu mengeluarkan termos kecil dari tasnya, menyerahkan susu pesanan perempuan itu, dan meminta maaf. “Ada halangan di jalan,” katanya. Tukang susu kemudian buru-buru mohon ijin membatalkan puasa.

Tapi perempuan muslimah itu tidak marah-marah kita sudah salah sangka. Malah ditawarinya tukang susu untuk berbuka puasa bersama suami dan anak-anaknya.

Tukang susu menolak, mungkin segan. Apalagi ia baru saja bikin salah. Tapi barangkali kebaikan memang harus diperjuangkan: kalau menolak ke dalam, makan di teras saja.

Terjadilah kompromi. Atas buka gratis yang tak bisa ditolak hari itu, tukang susu berkata: “Terima kasih. Saya belum pernah menemui ibu yang sebaik Ibu.”

Setelah peristiwa itu tukang susu selalu datang lebih awal, sekitar pukul tiga sore, dengan susu perahan yang masih hangat—tapi, tentu saja, bukan ini yang penting.

Di sore Ramadan yang lain, bertahun-tahun setelah peristiwa tukang susu, sehabis perempuan itu menyiram bunga-bunga di halaman, seorang pedagang pisang berhenti.

“Permisi, Nyonya Besar,” katanya, “Tolong dibeli supaya saya bisa buka puasa dan buat ongkos saya pulang ke kampung.”

Perempuan itu mengamati tandan-tandan. Hanya dilihatnya pisang yang layu dengan kulit yang bocel-bocel. Mengerti kekurangan-kekurangan pisangnya, tukang pisang itu sekali lagi memohon dengan risau. “Saya jual dua sisir sepuluh ribu, Nyonya.”

Tapi transaksi belum terjadi ketika terdengar adzan maghrib. Tampak tukang pisang kebingungan.

Mungkin karena ia tak ada rupiah atau sekedar air putih buat membatalkan puasa. Nyonya baik hati itu mengerti: ia menawarkan tukang pisang untuk membatalkan puasa sekalian makan bersama suami dan anak-anaknya di dalam rumah.

Tapi, sama seperti cerita tukang susu, tukang pisang merasa sungkan, “Saya minta air teh saja, jangan diajak masuk.” Perempuan itu tidak memaksa. Ia hanya meminta pembantu membawakan minum dan kolak pisang, beserta nasi dan lauk pauk sebagai makan malam tukang pisang.

Selesai berbuka dan makan malam sang nyonya membeli pisang dua sisir. Ia tak memborongnya. “Kalau saya semua nanti malah saya yang jadi tukang pisang,” perempuan itu bergurau. Ia memberi tukang pisang sepuluh ribu, ditambah lima belas ribu tambahan buat ongkos pulang naik angkot, bis, dan ojek.

Tentu saja kebaikan perempuan itu tidak hanya di rumah, dan tidak hanya kepada kaum yang sering membungkuk dalam-dalam tiap ketemu tuan dan nyonya besar seperti tukang pisang dan tukang susu dalam cerita di atas.

Tiap Ramadan, perempuan itu membuat daftar siapa-siapa kerabat yang akan dikunjungi. Ia tak pilih-pilih, entah itu kaya atau miskin.

Selama masih di Jakarta, bahkan kerabat yang rumahnya di tengah wilayah pelacuran pun didatangi. Ia tak peduli kata orang karena tak ada yang salah dengan silaturahim (saudaranya sampai menangis karena haru). Dan ia tidak mengharuskan yang lebih muda mendatangi yang tua semua sama, tak ada yang harus merasa paling layak untuk memulai.
Mungkin karena akhlak semacam itu, lelaki berkopiah yang mencintai perempuan muslimah baik hati itu menaruh hormat.

Lelaki itu, misalnya, menuruti saran sang perempuan agar dirinya tidak menerima pangkat mayor jenderal tituler dari pemerintah (wakil pemerintah dalam hal ini, waktu itu, Jenderal Nasution). Begitu pula saat lelaki itu ditawari menjabat Duta Besar RI di Arab Saudi.

Kekuasaan dan kelimpahan harta di depan mata, tapi perempuan yang selalu di sisinya bertanya: "Kalau sibuk, kapan waktu untuk mengaji Al-Quran yang tidak pernah ditinggalkan sejak kecil, kapan waktu untuk membaca dan menambah ilmu pertanyaan yang bertaut pada akhirat."

Perempuan itu ingin lelaki yang mencintainya, yang dicintainya, memilih peran di sebuah masjid yang baru berdiri di dekat komplek rumahnya: Masjid Agung Al-Azhar. “Lebih terhormat dihadapan Allah,” katanya kita bisa membayangkan tatapannya yang lembut tapi yakin.

Dan lelaki itu menurut. Perempuan itu telah memberinya keteguhan hati: "Jangan-jangan ia memang tak butuh pangkat dan jabatan, jangan-jangan ada yang jauh lebih berharga ketimbang sejumlah rupiah dan sebuah posisi."

Maka saya ingat, setelah perempuan itu wafat, lelaki berkopiah itu selalu shalat sunnah dan berdoa jika ingat padanya —perempuan terbaik dalam hidupnya— dan kuat sekali lanjut membaca kitab suci sampai 5-6 jam sampai mengantuk, sampai 6-7 kali khatam per bulan. Ketika anaknya bertanya kenapa ia begitu rajin, sampai lembur mendoakan segala, lelaki itu berkata sesuatu yang memang tak mudah: “Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah.”

Saya ingat siapa lelaki yang mengajari kita tentang cinta dan aqidah itu: namanya Hamka. Dan perempuan itu: istrinya. Akhlak istri adalah cerminan akhlak suami, kalau kata orang.

oleh : Aliya Imadudeen

Wednesday, June 4, 2014

Perjuangan Perda Syariat Islam di Sulawesi Selatan


Oleh: Syaiful Anshor
PENEGAKAN Syariat Islam di Indonesia seolah jadi isu yang tidak pernah mati. Sejak lama, perjuangan umat Islam untuk menegakkan syariat Islam di Tanah Air tidak pernah surut. Baik usaha secara kultural maupun struktural-konstitusional. Sejak tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapus, ekspektasi penerapan syariat Islam umat Islam tidak begitu signifikan. Meski begitu, umat Islam tidak putus asa dan masih berjuang dengan segala cara. Salah satunya yang dilakukan Nangro Aceh Darussalam yang telah dapatprivillege khusus dari pemerintah berupa otonomi khusus (otsus) untuk menegakkan Syariat Islam.
Hal serupa juga dilakukan di bumi Sulawesi Selatan. Perjuangan ini dilakukan oleh sejumlah tokoh dan ulama yang tergabung dalam Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) yang dikomandani langsung oleh putra pejuang legendaris Sulsel, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar. Meski begitu, usaha untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia bagian timur ini tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perjuangan KPPSI agar Sulawesi Selatan dapat otsus penegakan syariat Islam sampai sekarang belum terwujud. Salah satu sebabnya, belum dapat rekomendasi dari gubernur untuk diajukan ke pemerintah pusat.
Sepanjang sejarah, penegakan syariat Islam di Tanah Air selalu diwarnai pro-kontra. Hal itu karena syariat Islam masih dipandang negatif dengan sederet stigma miring. Syariat Islam dinilai melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena ada hukum potong tangan dan rajam. Tak sedikit orang yang takut jika syariat Islam diberlakukan. Khususnya kaum sekular-pluralis. Mereka menentang habis-habisan dan secara terang-terangan penegakan syariat Islam. Tak hanya itu, aktivis syariat Islam juga dicitrakan buruk, seperti kelompok radikalis, ekstrimis, dan subversif. Padahal, syariat Islam tidak sesempit pandangan mereka.
Kendati perjuangan KPPSI agar Sulsel dapat otsus penegakan syariat masih jauh, bukan berarti tidak memiliki sumbangsih terhadap pembangunan negara. Setidaknya, penegakan syariat Islam berupa Peraturan Daerah (Perda) bernuansa Islam yang digulirkan di Kabupaten Bulukumba jadi bukti bahwa syariat Islam telah memberikan sumbangsih signifikan terhadap pembangunan daerah. Hal itulah yang dirasakan Mantan Bupati Kabupaten yang terletak di ujung Selatan Provinsi Sulsel ini yang menjabat selama dua periode, 1995-2000 dan 2000-2005, Drs. H. Andi Patabai Pabokori.
Andi Patabai tergolong sukses memimpin Kabupaten Bulukumba. Dari sisi APBD naik signifikan. Begitu juga tingkat kriminalitas. Dari yang sebelumnya angka kriminalitas tinggi, setelah kepemimpinannya turun drastis. Seluruh Muslimah mengenakan pakaian Muslim. Masyarakat Muslim Bulukumba pun pandai membaca Al Quran. Kegiatan keagamaan selalu semarak. Non Muslim pun merasakan manfaatnya hingga tak sedikit yang justru mendukung perda. Gara-gara kesuksesan itu, dia pun dipercaya masyarakat untuk jadi Bupati selama dua periode. Katanya, bahkan, seandainya boleh mencalonkan untuk ketiga kali, masyarakat berharap dia maju kembali jadi Bupati.
Ketika pertama memimpin Bulukumba, Patabi cukup miris melihat kondisi masyarakatnya. Kriminalitas tinggi. Pemerkosaan, pembunuhan, dan pencurian kerap kali terjadi. Begitu juga miras banyak diperjual belikan. Karena itu, dia berfikir, cara untuk menanggulangi itu semua hanya satu: dengan syariat Islam. Patabai pun berfikir simpel. Syariat itu tidak mesti harus dengan rajam dan potong tangan. Tapi, hal-hal sederhana, seperti baca tulis Al-Quran, melarang penjualan miras, kewajiban mengenakan baju muslimah bisa mencegah praktik kriminalitas.
Dia yakin dengan itu masyarakat di Bulukumba bisa hidup aman, nyaman, dan tenang. Konsep format atau wadah penerapan syariat Islam yang dilakukan Patabai berupa Perda bernuansa Islam. Dia membuat empat Perda. Antara lain: Pertama, Perda Nomor: 03 tahun 2002 tentang larangan, pengawasan, penertiban, dan penjualan minuman beralkohol. Kedua, Perda Nomor: 02 Th. 2003 tentang Pengelolaan Zakat Profesi, Infaq, dan Sedekah. Ketiga, Perda Nomor: 05 Th. 2003, tentang Berpakaian Muslim dan Muslimah. Keempat, Perda Nomor : 06 Th. 2003 tentang Pandai Baca Al Quran bagi siswa dan Calon Pengantin.
Perda-perda itu ternyata sangat efektif. Dalam tempo dua tahun, masyarakat telah merasakan efeknya. Kriminalitas turun drastis. Tidak ada lagi orang jualan miras. Tidak ada lagi pencurian. Bahkan, katanya, binatang peliharaan dan kendaraan jika dibiarkan di luar rumah pada malam hari akan aman. Khususnya untuk zakat. Pendapat zakat naik drastis. Patabai mewajibkan jajaran pejabat daerah untuk menyisihkan gajinya untuk zakat. Dana itu pun bisa terkumpul ratusan juta rupiah per bulan dan bisa digunakan untuk membantu masyarakat.
Apa yang terjadi di Bulukumba sebenarnya potret baik penegakan syariat Islam. Meski masih berupa empat perda. Hal itu menandakan jika syariat Islam ditegakkan akan memberikan manfaat, bukan mafsadah. Hal itu sekaligus menepis ketakutan sejumlah kelompok dan tanggapan miring tentang syariat Islam bahwa syariat Islam itu menyelamatkan, bukan saja umat Islam, tapi juga non-Muslim.
Ijtihad
Perda bernuansa syariat Islam yang sukses dilakukan Patabai adalah sebagai bentuk ijtihad penegakan syariat Islam dalam konteks formal-struktural. Syariat Islam itu tidak mesti identik dengan atau menunggu daulah Islamiyah atau khilafah Islam. Format wadah syariat Islam bersifat fleksibel, tidak absolut (qothi’). Hal itu membuka ruang ijtihad. Ijtihad itu justru satu sisi lebih efektif dalam membumikan Islam dalam konteks formal.
Diskursus wadah penerapan syariat Islam juga mengemuka dalam kongres KPPSI yang diadakan di Asrama Haji Sudiang, Makassar 7-9 Maret ini. Amir KPPSI, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar mengatakan tidak ada dalil qothi baik dalam al Quran maupun hadits yang mengatakan daulah Islamiyah. Karena itu, wadah syariat Islam bersifat ijitihadi dan fleksibel. Fleksibelitas itu bisa diterjemahkan ke berbagai cara. Bisa melalui otonomi khusus, bisa melalui perda-perda syariat Islam, atau daerah Islam binaan. Tergantung probabilitas yang paling memungkinkan.
Karena itu, apa yang dilakukan mantan Bupati Bulukumba patut ditiru. Setidaknya, dengan digulirkannya perda-perda bernuansakan syariat Islam bisa membantu pembangunan daerah dengan menciptakan stabilitas keamanan, ekonomi dan religiusitas masyarakat.[sp/hidayatullah]

Wednesday, May 28, 2014

Kecerdasan Dzikrul Maut

Adakah hubungan antara perbuatan korupsi dengan kecerdasan seseorang ? Fakta Empirik menunjukkan bahwa para koruptor itu berpendidikan tinggi artinya mereka itu orang - orang cerdas.

Kalau tidak cerdas, mana mungkin mereka bisa ngakali, ngapusi, dan ngemplang uang negara atau uang rakyat. Namun jenis kecerdasan apakah yang membuat mereka itu menjadi korup? Boleh jadi, mereka itu cerdas secara intelektual, tetapi tidak cerdas secara spiritual sekaligus tidak cerdas dzikrul maut-nya. Akal yang digunakan untuk merencanakan korupsi itu adalah "akal bulus., akal yang dijajah oleh hawa nafsu.

Menurut pengamatan saya, ada satu kecerdasan "baru" yang selama ini kurang dibincangkan, yaitu kecerdasan dzikrul maut (ingat mati, mengingat kematian). Padahal Rasulullah saw sejak empat belas abad lalu sudah mengisyaratkan jenis kecerdasan ini. Kecerdasan ini sangat penting dimiliki oleh siapa pun, karena semua manusia tidak ada yang bisa mengelak dari kematian. Melalui kematian, manusia melakukan "mudik ke kampung lIahi".

Abdullah ibn 'Umar ra. meriwayatkan bahwa pada suatu hari ia bersama Rasulullah saw, lalu ada seorang sahabat Anshar datang dan mengucapkan salam kepada beliau. Setelah Rasul menjawab salam, orang itu bertanya: "Ya Rasulullah, siapa di antara orang Mukmin yang terbaik ituT Beliau menjawab: "Mukmin yang paling baik akhlaknya". lalu orang itu bertanya lagi: "Siapa orang yang paling cerdas". Beliau menjawab: "Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap mempersiapkan diri setelah kematian. Mereka itulah orang yang paling cerdas." (HR. Ibn Majah)

Ternyata puncak kecerdasan yang harus dimiliki Mukmin adalah kecerdasan dzikrul maul, bukan kecerdasan intelegensi, emosi, matematika, spatial, intrapersonal, sosial, musikal, natural, dan sebagainya, seperti yang dicetuskan oleh Howard Gardner dengan teori multiple intelegencies-nya. Namun, kecerdasan dzikrul maut seringkali diabaikan, padahal kematian itu sebuah kepastian. "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya (pasti). Itulah yang dahulu hendak kamu hindari." (Os. Oaf [50]: 19)

Dalam konteks itu, Allah SwT juga bertirman: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Os. Ali Imran [3]: 185). Selagi kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah SwT, maka kehidupan dunia ini semestinya tidak memperdayai kecerdasan dzikrul maut, sehingga kita lebih bersiap-siap menemui-Nya melalaui perjalanan "pulang" yang disebut kematian.

Peristiwa kematian merupakan pelajaran paling berharga. Orang yang menggunakan kecerdasan dzikrul maut-nya akan segera mendapat .sinyal dekatnya" waktu untuk pulang menuju kampung Ilahi. Sehingga jalan kehidupan yang ditempuhnya hanyalah jalan takwa dan ketaatan, bukan jalan kemunkaran dan kemaksiatan, termasuk korupsi. Kalau seseorang itu ingat mati dengan segala konsekuensinya, mestinya tidak akan pernah mencoba korupsi, apalagi menjadikannya sebagai hobi dan budaya. Jika kematian sudah menjadi "Iampu terang" yang menyinari jalan hidupnya, pastilah seseorang tidak akan pernah berpikir untuk korupsi.

Oleh karena itu, kecerdasan dzikrul maut idealnya selalu dicamkan dalam diri kita, sehingga dapat menginsafkan dan menyadarkan diri kita semua bahwa kehidupan dunia ini sangat sebentar, tidak abadi, dan tidak jarang membuat banyak orang terpedaya olehnya. Menurut Syeikh ad-Daqqaq, siapa yang banyak mengingat kematian, maka Allah SwT akan memuliakannya dengan tiga hal, yaitu: menyegerakan diri untuk bertaubat, memiliki hati yang qanil'ah (merasa cukup dan bersyukur atas rahmat dan karunia­Nya), dan menggiatkan amal ibadahnya.

Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kecerdasan dzikrul maut atau melupakan dan meremehkan kematian, maka Allah akan menghukumnya dengan tiga hal. Yaitu: menunda-nunda tau bat, tidak mensyukuri dan tidak ridla terhadap pemberian Allah yang sedikit, dan bermalas-malasan dalam beribadah.

Kecerdasan dzikrul maut juga merupakan salah satu kunci kebahagiaan hidup, karena orang yang selalu mengingat kematian pasti berupaya semaksimal mungkin untuk mengingat Allah SwT (dzikrullah). Karena itu, sungguh relevan nasehatseorang sufi bahwa jika engkau ingin merengkuh kebahagiaan sejati, ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hallainnya.

Dua hal yang harus terus diingat adalah berdzikir kepada Allah SWT (dzikrullah) dan mengingat kematian (dzikrul maut). Sedangkan dua hal yang harus dilupakan adalah perbuatan atau jasa baik yang pernah diberikan kepada orang lain dan perlakuan buruk orang lain kepada kita. Dzikrullah dan dzikrul maut menghidupkan hati untuk selalu mendekatkan diri kepada­Nya dan merindukan surga-Nya.

Dengan demikian, melejitkan kecerdasan dzikrul maut merupakan salah satu kunci kebahagiaan dan kenikmatan spiritual yang dapat mengantarkan kita kepada husnul khiltimah. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib -karramallahu wajhah-pernah berpesan: "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah bahwa kalian cenderung memperturutkan hawa nafsu (ittiba' al-hawa) dan banyak berangan-angan. Memperturutkan hawa nafsu dapat menghalanginya dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan itu dapat melupakan akhirat.". (suaramuhammadiyah/SP )

Muhbib A Wahab adalah Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Saturday, May 24, 2014

Mendidik Anak Sebagai Manusia, Bukan Sebagai Robot

Menjadi orang tua, barangkali adalah amanah paling berat yang harus diemban seorang manusia. Menjadi orang tua bukanlah sebuah profesi yang mudah, selain harus memberi nafkah materi, orang tua juga harus memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anaknya. Pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua sepenuhnya.
Mendidik anak, bagi sebagian besar orang tua mungkin adalah pekerjaan yang sepele, cukup memenuhi kebutuhan materi sang anak, kemudian menyekolahkan sang anak jika sudah cukup umur, lalu memilihkan jurusan keilmuan yang cocok sesuai dengan keinginan si orang tua. Banyak orang tua yang mengharapkan anaknya menjadi seperti yang mereka inginkan, namun mereka lupa mempertanyakan apa sebenarnya keinginan dan harapan sang anak itu sendiri. Yang pada akhirnya, seorang anak tumbuh sepenuhnya tunduk atas keinginan orang tuanya, menjalaninya meski dengan terpaksa.
Padahal sejatinya, anak-anak sangat butuh perlakuan yang benar dan bijaksana, bukan sekadar materi. Materi hanyalah sarana pendukung, tetapi hati seorang anak perlu untuk kita besarkan, perlu untuk kita jaga, perlu untuk kita tumbuhkan. Jika hanya kebutuhan materi anak saja yang dipenuhi, maka akan ada semacam keterpaksaan dari jiwa sang anak ketika memenuhi setiap keinginan orang tuanya. Setiap apa yang menjadi kewajibannya ia jalani semata kerena takut dan terpaksa.
Keterpaksaan anak yang semacam itulah yang dikhawatirkan. Tidak sepatutnya orang tua memaksakan kehendak dan keinginannya kepada sang anak. Sebaliknya, orang tua harus memberikan ruang kepada anaknya, memberi ruang bagi anak untuk berpikir dan kreatif, menghargai setiap pendapat anak, dan memberi apresiasi pada karya-karya yang dihasilkan sang anak.
Kendala yang kerapkali muncul dalam hubungan antara orang tua dengan anak adalah tidak adanya komunikasi yang intens. Tidak adanya komunikasi itu menyebabkan orang tua abai mendengarkan keinginan anaknya, bahkan tidak memberi kesempatan anaknya untuk mengutarakan keinginannya. Seharusnya, orang tua bisa bertindak bijaksana dengan menanyakan apa keinginan dan pilihan sang anak, barulah ia mengarahkan keinginan dan pilihan itu ke jalan yang paling baik. Sulit berkomunikasi dengan anak membuat orang tua tidak sadar bahwa ia sedang membangun benteng kokoh yang memisahkan hubungannya dengan anak, bukan membangun jembatan dari hati ke hati .
Ada banyak hal-hal kecil untuk memulai komunikasi sebagai jembatan pengakrab dengan anak, misalnya dengan memuji sang anak. Memuji anak akan membesarkan hatinya sehingga ia merasa bangga dengan apa yang telah dilakukan dan dicapainya. Selama ini, banyak orang tua yang terlalu cepat marah saat anaknya berbuat yang kurang berkenan di hati. Namun, mereka (orang tua) sangat sering terlambat memuji atau bahkan sama sekali tidak memuji saat anak berbuat sesuatu yang benar .Dengan memarahi anak dan jarang memujinya, maka akan tercipta jarak yang semakin menganga dengan anak, dan hubungan orang tua dengan si anak akan semakin gersang.
Ukuran Bahagia Bukan Hanya Materi
Selama ini, banyak orang tua yang merasa telah sukses menjalankan tugasnya membahagiakan anak ketika telah mampu mencukupi kebutuhan materi sang anak. Mereka merasa, dengan memberikan materi yang cukup bahkan berlimpah, sang anak akan merasa bahagia dan bangga akan perhatian orang tuanya. Padahal, anggapan yang demikian itu sepenuhnya keliru. Ukuran bahagia sang anak bukan hanya materi, melainkan juga perhatian yang intens dari orang tua. Perhatian yang intens ini juga bukan berarti orang tua bertindak posesif dengan mengawasi setiap gerak-gerik anaknya.
Membahagiakan anak, tidaklah selalu dengan memberikan materi. Apa gunanya kita memberikan hal tersebut dengan berlimpah jika anak sering sakit hati karena kita marahi.
Kata kunci untuk menjalin hubungan yang baik antara orang tua dan anak adalah komunikasi. Jika anak melontarkan ide dan keinginannya, orang tua harus menjadi orang tua yang baik. Jika anak melontarkan pertanyaan, cobalah pahami pertanyaan anak dengan bijaksana. Jika orang tua tidak tahu jawabannya, simpanlah pertanyaan anak untuk dicari jawabannya bersama. Bangunlah komunikasi dua arah melalui cara merespons pertanyaan anak dengan bijaksana.
Orang tua yang bijaksana harus bisa memulai membangun komunikasi yang baik dengan anaknya, karena bagaimanapun, orang tualah yang bertanggung jawab atas perkembangan si anak. Pola komunikasi orang tua dengan si anak juga harus mulai diubah. Misalnya orang tua selama ini terbiasa menyuruh, hendaklah mengubah suruhan itu dengan ajakan. Ajakan, berarti orang tua juga terlibat aktif dengan apa yang dilakukan anaknya. Anak akan merasa senang jika orang tua dapat memberi contoh karena mereka butuh panutan atau pemimpin, dan pemimpin dan panutan yang paling dekat adalah orang tua.
Akhirnya, orang tua yang bijaksana bukanlah orang tua yang mampu memenuhi setiap kebutuhan materi sang anak, tapi di sisi lain memaksakan setiap kehendaknya kepada sang anak. Orang tua yang bijaksana adalah mereka yang mendengarkan keinginan dan harapan anaknya, kemudian memfasilitasinya sejauh keinginan mereka itu baik. Orang tua yang bijaksana adalah mereka yang memberi teladan dan panutan. Sebab anak adalah manusia yang harus diperlakukan layaknya manusia, bukan robot yang bisa diperintah seenaknya sesuai keinginan orang tua. [sp/taqwimislamy.com]

Wednesday, May 21, 2014

Trensains: Pesantren Alternatif Muhammadiyah

Oleh: Agus Purwanto (Anggota MTT PP Muhammadiyah 2010-2015, Pengajar Pascasarjana Fisika ITS, Visiting Fellow ISTAC-IIUM. Penulis buku BestSeller Ayat-Ayat Semesta)

Butir amanat muktamar Muhammadiyah ke-45 (2005) di bidang pendidikan, iptek dan litbang menyebutkan:”Membangun kekuatan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya insani, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan eksplorasi aspek-aspek kehidupan yang bercirikan Islam sehingga menjadi alternatif kemajuan dan keunggulan di tingkat nasional atau regional”. (Tanfidz KeputusanMuktamar Muhamadiyah ke-45 di Malang, 2005:61).
Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang dikenal dengan trademark pendidikan. Ribuan sekolah sejak PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah berdiri dari Sabang sampai Merauke. Bukan hanya itu, di setiap kota yang ada sekolah Muhammadiyahnya hampir selalu ada lembaga pendidikan Muhammadiyah yang menjadi terbaik atau favorit. Muhammadiyah pun terus berupaya meningkatkan kualitas terlebih di tengah perubahan yang sangat cepat.
Muhammadiyah dan Pesantren
Amanat muktamar di depan adalah wujud dari sikap antisipatif Muhammadiyah terhadap dinamika perubahan masyarakat. Bagaimanapun kemajuan modernitas bagai mata uang dengan dua sisi, yakni sisi kemajuan material dan sisi degradasi moral. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sedemikian pesat, tetapi pada saat yang sama liberalnya pergaulan membuat para orang tua mencemaskan keadaan putra-putrinya. Di tengah situasi seperti ini sekolah berasrama (boarding school) mulai dilirik masyarakat.
Pondok pesantren atau pesantren saja adalah lembaga pendidikan berasrama yang khas Indonesia dan mengkhususkan diri pada kajian Islam. Pesantren telah ada di Indonesia sejak ratusan tahun lalu sehingga lembaga pendidikan berasrama bukanlah hal baru. Motivasi awal kehadiran pesantren adalah kaderisasi ulama syariah. Memang, para ulama terkemuka di Indonesia lahir dari dunia pesantren.
Mengingat motivasi dan peran tersebut maka Muhammadiyah sebagai gerakan Islam meniscayakan kehadiran pesantren. Muallimin-muallimat Yogjakarta adalah pesantren andalan Muhammadiyah bagi kaderisasi ulama tersebut. Saat ini, sekretaris Itmam (Ittihadul Ma’ahid al-Muhammadiyah, Persatuan Pondok Pesantren Muhammadiyah) mencatat terdapat 102 pesantren Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Muhammadiyah makin merasakan urgensi kehadiran pesantren sebagai lembaga kaderisasi ulama maupun sebagai tuntutan masyarakat. Meskipun demikian, tidak mudah bagi Muhammadiyah untuk mendirikan pesantren karena ciri khas dari pesantren yang berbeda dari lembaga pendidikan umum yang banyak didirikan oleh Muhammadiyah. Pertanyaannya, pesantren model apa yang khas dan dapat direalisasi Muhammadiyah.
Tahun 2009 pondok modern Muhammadiyah yakni Muhammadiyah Boarding School (MBS) berdiri di Klaten. Misi utama MBS adalah mempersiapkan para santri untuk mendalami ilmu syariah di timur tengah. Singkat kata, MBS membidani lahirnya ulama syariah. Meskipun demikian, MBS juga memberi jalan bagi para santri yang ingin melanjutkan studi pada bidang umum seperti kedokteran.
Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo dan pesantren Darul Ihsan Sragen juga berstatus pesantren modern tetapi berbeda dari MBS pada penekanan muatan ajar. Dua pesantren terakhir menekankan pada materi sekolah umum khususnya IPA dan masih terlibat dalam event olimpiade berbagai bidang ilmu. Tipe pesantren modern seperti MBS, Imam Syuhodo dan Darul Ihsan cuku banyak di masyarakat dan bukan t khas Muhammadiyah. Saat ini, ada tipe pesantren yang sedang ngetren tapi belum banyak di Muhammadiyah yaitu pesantren penghafal al-Quran.
Islam vs Sains
Awal tahun 1960an Hossen Nasr intelektual muslim yang tinggal di Amerika memperkenalkan wacana sains Islam dan terus berkembang sampai saat ini. Di Barat, wacana sains Islam berkembang sejalan dengan wacana pergulatan antara agama dan sains. Ian Barbour doktor di bidang teologi dan fisika melakukan analisa dan mendapatkan empat pola hubungan antara gama dan sains. Keempat hubungan tersebut adalah konflik, independensi, dialog dan integrasi antara agama dan sains.
Nasr juga Ismail al-Faruqi, Naquib al-Attas, dan Ziaudin Sardar serta Osman Bakar memandang bahwa ketegangan antara agama khususnya Islam dan sains modern merupakan keniscayaan. Sebabnya, sejak diambil alih Eropa dari pangkuan Islam, sains dikembangkan secara reduksionis dan mengesampingkan transendensi metafisisnya. Karenanya, upaya mengembalikan sains dalam bingkai ilahiah merupakan tugas besar ilmuwan muslim saat ini dan mendatang.
International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Virginia Amerika dan cabang terkemukanya di Kuala Lumpur adalah lembaga bagi realisasi upaya tersebut. Salah satu program IIIT adalah memberi beasiswa mahasiswa pascasarjana bidang sains Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilizations (ISTAC) di International Islamic University Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur. ISTAC sendiri awalnya adalah lembaga independen yang didirikan awal 1980an oleh Naquib al-Attas bagi upaya unifikasi Islam dan sains, yang kemudian digabung menjadi program pascasarjana pemikiran Islam IIUM.  
Di Indonesia, gerakan ini mulai dilakukan dengan menata ulang IAIN menjadi UIN dan memasukkan fakultas sains dan teknologi di dalam UIN. Dua UIN paling aktif dalam upaya integrasi Islam dan sains adalah UIN Malang dan Yogjakarta. Beberapa cendekiawan secara independen juga terlibat dalam diskursus ini.
Pesantren Baru
 Sejak buku Ayat-Ayat Semesta (AAS) tahun 2008 penulis terlibat aktif sosialisasi wacana interaksi antara Islam dan sains dari kampus ke kampus, pesantren dan majelis-majelis ta’lim. Setelah empat tahun sosialisasi muncul gagasan trensains, pesantren sains, institusionalisasi AAS atau pun sains Islam.
Trensains mempunyai profil lulusan: i) lancar berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan ii) bahasa Arab, iii) jago IPA dan matematika serta iv) paham diskursus pergulatan Islam dan sains. Transains berorientasi melahirkan ilmuwan, insinyur dan dokter yang basis al-Quran dan filsafat yang kokoh. Moto trensains, Generasi Pecinta al-Quran dan Sains.
Kemampuan bahasa Inggris dan Arab merupakan ciri umum pesantren modern. Karena orientasi alumni adalah studi lanjut baik di dalam maupun luar negeri maka diupayakan ketika lulus telah mempunyai skor TOEFL. Pemenuhan profil jago IPA dan matematika selain diterapkan dalam proses selama pendidikan juga diterapkan sejak saringan calon santri. Singkat kata, para calon santri harus mempunyai nalar matematika dan IPA yang kuat. Sampai di sini, trensains masih sama dengan pesantren modern yang telah ada.
Profil keempat paham wacana interaksi agama khususnya Islam dan sains menandai sekaligus membedakan trensains dari pesantren yang telah ada selama ini. Di pesantren modern biasa materi al-Islam, dan sains (biologi, fisika, kimia) juga diberikan tetapi tanpa dibahas hubungan dinamis keduanya. Materi untuk pemahaman topik ini adalah al-Quran dan hadits, logika, filsafat, sains, agama dan sains.
 Materi al-Quran diurai dalam seluk-beluk, pengantar tafsir, tafsir ilmiy, tafsir bil ilmiy dan eksplorasi pada ayat-ayat kauniyah. Materi hadits juga demikian, pengantar studi hadits, jenis dan fungsi hadits, serta eksplorasi hadits-hadits terkait alam dan fenomenanya. Hafalan al-Quran dan hadits dipilihkan bagian kauniyah dan yang terkait.
Materi logika dijabarkan dalam pengantar, jenis dan asas pemikiran. Sedangkan materi filsafat dijabarkan dalam pengertian, sifat dan fungsi serta sejarah kelahiran filsafat, filsafat Islam dan filsafat Barat modern. Kelahiran filsafat untuk memberi pemahaman mengenai proses penalaran sederhana dan terbentuknya teori-teori primitip. Filsafat Barat modern untuk memahami sifat dasar ilmu pengetahuan saat ini.  
Materi sains djabarkan dalam pengertian, sifat, topik tertentu dan sejarah sains sejak jaman Mesir kuno sampai sekarang. Riwayat singkat tokoh filsafat ilmu dan ilmuwan diberikan. Bidang sains yang erat dengan wacana islamisasi sains hanya ada dua yaitu astronomi, biologi dan fisika. Topik di biologi yang harus diberikan adalah asal-usul kehidupan, teori evolusi dan genetika. Sedangkan topik di fisika dan astronomi adalah teori atom, jagat raya dan kelahirannya. Teori relativitas dan kuantum diberikan dalam bentuk semi populer.
Buku The Bible, The Qur’an and Science karya Maurice Bucaille Perancis dan al-‘Ijaz al-‘Ilmiy fi as-Sunnah an-Nabawiyah karya Zaghlu an-Najar Mesir dapat dijadikan sebagai rujukan utama bagi tema kaitan antara al-Quran-Hadits dan sains. The Origin of Species karya Charles Darwin, The First Three Minutes karya Steven Weinberg, Brief History of Time dan The Grand Designer karya Stephen Hawking dapat dijadikan pegangan topik sains. Masih banyak lagi buku asing maupun yang ditulis oleh penulis dalam negeri yang dapat diperoleh di toko-toko buku. Materi-materi di depan tentu harus disesuaikan dengan tingkatan trensains, apakah tingkat SMA atau mahasiswa.
Untuk tahap awal, trensains akan direalisasi di Kesamben Mojoagung Jombang dan pesantren darul Ihsan Sragen. Trensains di Jombang bekerjasama dengan KH Shalahudin Wahid. Program dimulai dari awal, telah tersedia tanah sepuluh hektar dan proses pembangunan gedung dimulai September 2012 dan diupayakan telah menerima santri tahun ajaran 2012/2013. Trensains Darul Ihsan Sragen dilakukan dengan memodifikasi pesantren yang telah berjalan. Kedua trensains ini setingkat SMA. Muhammadiyah sangat mungkin untuk merealisasi trensains, baik level SMA maupun universitas.

Saturday, May 17, 2014

Sejarah Masuknya Islam di Bumi Cenderawasih

Papua adalah sebuah kota terluas di Nusantara yang terletak di bagian paling timur Irian Jaya. Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini. Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua namun sejak tahun 2003 dibagi menjadi dua provinsi di mana bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya memakai nama Papua Barat.
Banyak yang mengatakan bahwa Papua adalah kota di mana agama Kristen adalah agama yang pertama kali masuk ke Papua sehingga dikatakan bahwa Papua adalah Kota Kristen khususnya Manokwari yang disebut-sebut sebagai Kota Injil. Tidak banyak yang tahu sejarah masuknya agama Islam ke Papua. Banyak yang mengatakan bahwa agama Kristen adalah agama yang terlebih dahulu atau yang pertama masuk ke Papua padahal berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa sejarawan mengatakan bahwa agama Islam adalah agama yang pertama masuk ke Papua. Penulis di sini akan menulis sedikit atau sekilas sejarah masuknya agama Islam ke Papua yang mungkin tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. 

Tidak mudah melacak jejak masuknya agama Islam  ke Papua. Upaya penelusuran sejarah tersebut akan dihadapkan dengan berbagai temuan versi sejarah yang beragam. Bumi Cendrawasih sendiri telah sejak lama dikenal dalam rangkaian bumi Nusantara. Seperti halnya awal masuknya agama Islam di Nusantara, para sejarawan memiliki pandangan yang berbeda tentang masuknya agama Islam di Papua. Ada sejarawan yang berpendapat bahwa agama Islam telah tersebar di Papua pada abad ke-14. Pendapat ini didasarkan pada keterangan Thomas W. Arnold dalam tulisannya The Preaching Of Islam. Beliau mengatakan bahwa “Setelah Kerajaan Majapahit runtuh yang dikalahkan oleh Kerajaan Islam Demak maka pemegang kekuasaan berikutnya adalah Kerajaan Islam Demak. Sebagaimana Kerajaan Majapahit, maka Kerajaan Islam Demak itu memiliki pengaruh terhadap wilayah Papua, baik langsung maupun tidak.”

Bukti berupa tradisi lisan masih terjaga sampai hari ini berupa cerita dari mulut ke mulut tentang kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih. Selain itu terdapat living monument yang lain berupa makanan Islam yang dikenal dimasa lampau yang masih bertahan sampai hari ini di Papua kuno di desa Saonek, Lapintol dan Beo di distrik Waigeo. Belum lagi bukti-bukti tekstual berupa naskah dari masa Raja Ampat dan teks kuno lainnya di beberapa masjid kuno. Sedangkan di Fak-Fak, Papua Barat, masih dapat ditemukan delapan manuskrip kuno berhuruf Arab berbentuk kitab dengan berbagai ukuran. Yang terbesar berukuran kurang lebih 50 x 40 cm berupa mushaf Al Quran yang ditulis dengan tulisan tangan di atas kulit kayu dan dirangkai menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadits, ilmu tauhid dan kumpulan doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada tahun 1912 dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu.

Sedangkan ketiga kitab lainnya ditulis di atas daun koba-koba yang merupakan pohon khas Papua yang mulai langka saat ini. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu. Sekilas bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia Timur. Thomas W. Arnold (1864-1930) adalah seorang orientalis berkebangsaan Inggris yang juga Profesor Bahasa Arab di Sekolah Studi Oriental, Universitas London berpendapat bahwa Kerajaan Islam Demak yang berkedudukan di Jawa Timur memiliki pengaruh dalam penyampaian dakwah di Papua mengingat Papua pada masa Kerajaan Majapahit termasuk dibawah pengaruhnya sedangkan Kerajaan Majapahit digantikan kedudukannya oleh Kerajaan Islam Demak. Masuknya Papua dalam wilayah pengaruh Kerajaan Majapahit sebelum digantikan oleh Kerajaan Islam Demak didasarkan pada buku Nagarakartagama yang telah dikutip di atas. Dalam buku itu disebutkan nama Onin dan Seram (nama lain dari Ewanin dan Kowiai) yang terdapat di daerah Fak-Fak di mana disebutkan bahwa daerah itu telah terpengaruh ajaran agama Islam. 

Bahkan dalam bukunya tersebut lebih lanjut dijelaskan armada-armada perdagangan dari Maluku dan mungkin dari Pulau Jawa di sebelah barat kawasan ini telah memiliki pengaruh jauh sebelumnya. Dari buku tersebut dikatakan bahwa seiring dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit (1527) yang pernah menguasai sejumlah kawasan di Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam hingga Thailand, hadirlah kekuatan baru yaitu kekuatan Kerajaan Islam Demak. Sejak zaman Kerajaan Islam Demak itu, atau bahkan jauh sebelumnya, pengaruh Kerajaan Islam Demak menyebar ke Papua. Penyebarannya melalui jalur perdagangan para saudagar dan da’i muslim yang berdakwah.

Seorang Guru Besar Bidang Arkeolog, Fakultas Sastra di Universitas Negeri Malang dan sekaligus Ketua Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia (AAEI) Jawa Timur yang bernama Prof. Dr. Habib Mustopo mengemukakan pendapat yang berbeda dengan Thomas W. Arnold. Beliau menyebutkan bahwa kehadiran agama Islan di Papua justru sekitar satu setengah abad sebelum keruntuhan Kerajaan Majapahit. Menurut beliau, pada saat Kerajaan Majapahit eksis, dakwah agama Islam juga sudah eksis. Apalagi dengan ditemukannya artefak yang waktunya terentang antara 1368-1611 M yang membuktikan adanya komunitas muslim disekitar Keraton Kerajaan Majapahit, di Troloyo, yakni sebuah daerah bagian selatan pusat Kota Majapahit yang otomatis menjadi pengaruh Kerajaan Islam Demak. Setelah Kerajaan Majapahit digantikan kedudukannya oleh Kerajaan Islam Demak, kebesaran Kerajaan Majapahit tidak terimbangi dengan kebesaran Kerajaan Islam Demak.

Di Samate juga ditemukan keturunan Arab-Islam. Sementara itu komunitasagama Islam juga terdapat di daerah Asbaken. Kedatangan para transmigran dari Pulau Jawa juga telah mengubah peta penyebaran penduduk berdasarkan agama. Kedatangan dan penyebaran agama-agama di wilayah Moi tidak melalui peperangan namun dengan cara damai.
Sementara itu, berdasarkan data arkeologi dan sejarah penyebaran dan sosialisasi agama Islam di Nusantara dapat dijelaskan fdalam fase-fase pertumbuhan dan perkembangan yang secara kronologis sebagai berikut :

1. Fase kontak komunitas Nusantara dengan para pedagang dan musafir.
Seperti yang kita ketahui bahwa awal masuknya agama Islam ke Nusantara yakni melalui kontak antara komunitas Nusantara dengan para pedagang dan musafir dari Arab, Persia, Turki, Syria, India, Pegu, Cina dan yang lainnya. Fase ini berlangsung pada awal abad Masehi hingga abad ke-3 sampai ke-9. Akibat perdagangan ini para pedagang asing yang memeluk agama Islam mengadakan kontak dan bergaul dengan masyarakat Nusantara. Fase ini berlangsung antara abad ke-9 dan ke-11.

2. Fase tumbuhnya pemukiman muslim di Nusantara.
Pada fase ini, kantung-kantung pemukiman muslim di Nusantara semakin tumbuh dan berkembang baik di pesisiran maupun di pedalaman. Fase ini berlangsung antara abad ke-11 sampai ke-13. Bukti-bukti tersebut ditemukan dipesisir Sumatera, Jawa Timur, Ternate dan Tidore.

3. Fase tumbuhnya pusat-pusat kekuatan politik dan kesultanan agama Islam di Nusantara.
Fase berikutnya adalah tumbuhnya pusat-pusat kekuatan politik dan kesultanan agama Islam di Nusantara.yang terjadi pada abad ke-13 sampai abad ke-16. Kerajaan bercorak agama Islam yang tumbuh dan berkembang sekitar fase ini mulai mengadakan hubungan dengan ekstradisi besar Eropa yang dimotivasi perdagangan. Tepatnya pencarian sumber-sumber penghasil rempah-rempah. 

4. Fase perdagangan yang sangat maju di Nusantara.
Fase dimana perdagangan yang sangat maju di Nusantara memungkinkan pedagang  Nusantara seperti Bugis, Makassar, Buton maupun perpindahan penduduk karena transmigrasi masuk ke wilayah Papua melalui pintu masuk Papua yaitu Kota Sorong. Kondisi inilah yang menyebabkan pengaruh agama Islam masuk ke wilayah kota sampai ke pelosok pedalaman.

Pendapat Thomas W. Arnold dapat dipahami dan dicerna berdasarkan analisa pendekatan historiografi yang bisa dilihat dalam fase ketiga di atas, ini dibuktikan dengan beberapa tempat yang ada di Papua. Misalnya suku-suku asli dari Moi yang beragama Islam di daerah Moraid yang berketurunan campuran dengan bangsa pendatang Arab dan Timur Tengah lainnya. Agama Islam juga masuk ke Papua karena di dakwahkan oleh kaum pendatang dari Maluku. Dalam catatannya disebutkan “Beberapa suku di Papua di Pulau Gebi antara Waigyu dan Halmahera telah di Islam kan oleh kaum pendatang dari Maluku. Di Irian Jaya, hanya sedikit penduduk yang memeluk agama Islam. Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat, mungkin semenanjung Onin oleh para pedagang muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk. Itu terjadi sejak tahun 1606 tetapi nampaknya kemajuannya berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian.”

Menurut Thomas W. Arnold tentang masa awal kehadiran agama Islam di Papua untuk pertama kalinya terjadi pada awal abad ke-17. Hal itu berarti bahwa kehadiran agama Islam di pulau terbesar negeri ini mendahului sekitar dua abad dari kehadiran agama Kristen Protestan. Agama Kristen Protestan masuk pertama kali di Papua melalui daerah Manokwari pada tahun 1855 yang di bawa oleh dua missionaris dari Jerman yang bernama C.W. Ottow dan G. J. Geissler utusan UZV (Utrechse Zendings Vereningging) yang kemudian menjadi pelopor kegiatan missionarisasi di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855.

HJ De Graaf, seorang ahli sejarah dari Belanda berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Papua melalui Ternate dan Bacan. Beliau menegaskan bahwa berdasarkan catatan-catatan, kedatangan agama Islam di tanah Papua sesungguhnya sudah sangat lama. Agama Islam masuk ke Papua melalui jalur-jalur perdagangan sebagaimana halnya dengan di kawasan lain di Nusantara. Pada pertengahan abad ke-16, wilayah Kerajaan Ternate meliputi wilayah Sulawesi Utara mulai dari Mandar sampai Manado. Rajanya adalah seorang Muslim. Atas ajakan Raja Ternate, Raja Bolang Mongondow memeluk agama Islam. Terus ke timur Kepulauan Maluku yakni Kerajaan Bacan. Muballigh dari Kerajaan Bacan terus mendakwahkan agama Islam ke kawasan tetangganya di Papua melalui jalur perdagangan.
Pengaruh hegemoni Ternate terhadap kerajaan-kerajaan di Papua di kemukakan oleh Le Periplus yang mengatakan “Pengaruh ras Austronesia dapat dilihat dari kepemimpinan raja di antara keempat suku, yang boleh jadi diadaptasi dari kesultanan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Dengan politik kontrol yang ketat di bidang perdagangan, pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate ditemukan di Raja Ampat, Fak-Fak dan Kaimana.” Berdasarkan temuan Peripulus ini, terbangunnya komunitas muslim di Fak-Fak dan Kaimana tidak lepas dari pengaruh Kerajaan Ternate pada masa silam.

Islam diyakini telah ada di Papua jauh sebelum misionaris Nasrani masuk pulau paling timur Indonesia itu. Saksi bisu sejarah itu adalah Masjid Patimburak di Distrik Kokas, Fakfak. Masjid ini dibangun oleh Raja Wertuer I bernama kecil Semempe. Pada tahun 1870, Raja Wertuer I membuat sayembara yaitu misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patimburak dan gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu.

“Masjid lah yang berdiri pertama kali,” ujar juru kunci masjid itu, Ahmad Kuda. Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian menjadi imam dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban dan tanda pangkat di bahunya.
Masjid ini dibangun oleh seorang imam yang bernama Abuhari Killian. Arsitektur Masjid Patimburak sendiri tergolong unik. Dari kejauhan, masjid ini terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip gereja-gereja di Eropa masa lampau. Namun ada empat tiang penyangganya di tengah masjid yang menyerupai struktur bangunan Jawa. Interior dalamnya pun hampir sama dengan masjid-masjid di Pulau Jawa yang didirikan oleh para wali. Masjid itu kini masih berdiri megah di pinggir teluk Kokas, setengah jam perjalanan dengan perahu bermotor dari dermaga Kokas. Lubang bekas peluru sisa-sisa serbuan pasukan Belanda maupun Jepang dibiarkan utuh.
1386172439609157549
Masjid Patimburak, Saksi Bisu Sejarah Islam di Papua Abad 19

Toni Victor M. Wanggai dalam disertasinya Rekonstruksi Islam Papua juga melihat pengaruh kerajaan-kerajaan Islam yang berkuasa di kawasan Indonesia bagian timur saat itu yakni : Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan. Hal itu terlihat dari kehadiran Islam di Raja Ampat, situs Islam di Pulau Nusmawan, Kabupaten Teluk Bintuni dan lain sebagainya.
Kerajaan Bacan merupakan salah satu kerajaan Islam yang memiliki peran penting penyebaran Islam di Papua melalui jalur kekuasaan. Hal itu karena sejak abad ke-15. Andil Bacan terhadap awal masuknya Islam di Papua dilakukan Sultan Bacan melalui pengangkatan sejumlah tokoh local menjadi pemimpin-pemimpin di Biak. Mereka diberi berbagai gelar yang merupakan jabatan suatu daerah. Sejumlah nama jabatan tersebut sekarang dapat ditemukan dalam bentuk marga atau fam penduduk Biak Numfor. Dari sumber-sumber barat diperoleh catatan bahwa pada tahun 1520 yaitu pada abad ke-16, Kerajaan Islam Bacan berhasil menguasai sejumlah daerah di Papua seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati (yang merupakan Suku Moi dalam rumpun Moi Maya) membuat mereka tunduk pada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku sehingga dapat dipastikan masuknya pengaruh Islam di daerah-daerah tersebut. Bahkan melalui pengaruh sultan sendiri, sejumlah pemuka masyarakat di wilayah Papua tersebut, khususnya di daerah pesisir, memeluk agama Islam setelah sebelumnya menganut kepercayaan tradisi. Hal ini juga diakui oleh Thomas W. Arnold. 

Peran Bacan terhadap masuknya Islam di Papua dikemukakan oleh WC. Klein. Dalam hal ini Klein menulis : “Pada tahun 1569 pemimpin-pemimpin Papua mengunjungi Kerajaan Bacan di mana dari kunjungan tersebut terbentuklah kerajaan-kerajaan).” Kerajaan-kerajaan yang di maksud itu adalah Kerajaan Raja Ampat, Kerajaan Raja Rumbati, Kerajaan Atiati dan Kerajaan Fatagar. Selain menjelaskan peran Bacan terhadap masuknya Islam di Papua, Klein juga mengisyaratkan bahwa Islam diterima oleh masyarakat Papua pada tahun 1569, lebih dulu setengah abad dari tahun yang diketahui oleh Thomas W. Arnold.
 
Dalam kehidupan ber masyarakat di Bumi Cenderawasih ini jarang terjadi pertentangan yang disebabkan permasalahan perbedaan keyakinan agama. Slogan adat ‘satu tungku tiga batu’ telah lama berkembang. Maksud slogan tersebut adalah kehidupan rakyat Papua ditopang oleh tiga agama yaitu Islam, Kristen dan Katholik. Tiga batu yang dimaksud adalah ketiga agama tersebut yang bersatu sehingga menopang tungku agar tidak timpang.

Dalam masyarakat juga berkembang seni sawat yaitu orkes musik dengan tetabuhan yang terdiri dari rebana, tifa, seruling dan gong kecil. Seni sawat tersebut pada masa lampau menjadi alat dakwah para da’i. Penduduk pribumi yang memutuskan menjadi muslim juga disambut dengan perayaan music sawat tersebt sampai hari ini. Tifa jelas musik asli Papua, sedangkan rebana dan seruling dibawa oleh para da’i muslim yang membawanya masuk ke Papua. Belakangan ini cara dakwah dengan sawat tersebut juga diadopsi oleh para missionaris Kristen asal Belanda di Papua. Namun kerukunan tetap terjaga di bumi Papua. Para da’i pun tidak berhenti berdakwah menjadi perantara rahmat Allah di Bumi Cendrawasih hingga hari ini.

13861725851608263711
Masjid Raya Al Akbar Sorong

Masjid Raya Al Akbar adalah sebuah masjid yang berada di kota Sorong, Papua Barat. Masjid ini terletak di tengah kota yang beralamat tepat di Jalan Ahmad Yani No. 40 kota Sorong. Di komplek masjid ini juga terdapat ruang pertemuan yang bernama Al Akbar Convetion Center. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Sorong dan selalu dipadati oleh jamaah Islam. Bangunan masjid ini terdiri dari dua lantai yang dominan bercat warna putih dan hijau. Bentuk kubah di masjid ini sangat khas karena berbentuk kubah yang berlekuk lima. Masjid ini mempunyai dua menara di samping kiri kanannya untuk menambah nuansa masjid pada umumnya.

Penulis: MAIDA, lahir pada tanggal 29 Oktober 1928 di Makassar, Sulawesi Selatan.